[BANDUNG LAUTAN API]

 Oleh : Bidang 1 Sema FEB KMUP 2020/2021


Bandung Lautan Api (BLA) adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di Kota Bandung pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, para pejuang kemerdekaan dan sekitar 200 ribu penduduk Bandung membakar rumah mereka. Usai membakar rumah, mereka meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Aksi pembakaran rumah ini disebut juga “operasi bumi-hangus”.

Pembakaran dilakukan dengan tujuan mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan Kota Bandung sebagai markas militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Sebuah pengorbanan sangat besar dari warga Bandung dulu untuk Indonesia. Ide pembakaran Kota Bandung muncul dari Mayor Rukana, seorang komandan Polisi Militer Bandung. Awalnya ia menanggapi Letkol Omon Abdurachman yang ditegur Kolonel Nasution karena ingin melakukan perlawanan.

Rukana yang juga ingin melawan mengatakan, untuk meledakkan terowongan Sungai Citarum yang ada di Rajamandala agar sungai meluap dan membuat Bandung menjadi lautan air. Namun, karena emosi, ia malah mengatakan “lautan api”, dan bukan lautan air.

Istilah “Bandung Lautan Api” menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut. Peristiwa Bandung Lautan Api mengilhami Ismail Marzuki menciptakan lagu “Halo-Halo Bandung”.

Pada Selasa 23/3/2021, dua anggota Paskibraka Kota Bandung melakukan tabur bunga saat ziarah Peringatan Ke-75 Peristiwa Bandung Lautan Api di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, Jawa Barat. Pemerintah Kota Bandung menggelar ziarah dengan protokol kesehatan untuk tetap mengenang dan menjaga jasa para tentara dan penduduk sipil saat peristiwa Bandung Lautan Api pada tahun 1946 dalam membela Indonesia dari penjajah Sekutu dan NICA.

Bila diingat kembali, peristiwa Bandung Lautan Api menjadi cerminan bentuk perjuangan sesungguhnya. Peristiwa ini adalah bukti perjuangan perebutan dan pemertahanan kemerdekaan RI tidak hanya dilakukan oleh para tentara dan barisan bersenjata, namun para pemuda, pedagang, tukang becak, petani dan ibu rumah tangga pun ikut aktif secara langsung dalam upaya perjuangan. Rakyat sangat paham bahwa perdamaian tidak dapat diraih tanpa adanya persatuan dan pengorbanan.

Mari bercermin dari pengorbanan rakyat Bandung saat itu. Bayangkan bagaimana suasana hati rakyat Bandung yang dengan terpaksa harus meninggalkan Bandung Selatan sesuai ultimatum kedua tentara sekutu yang mereka terima secara sepihak. Mereka harus rela berjalan kaki sejauh lebih dari sebelas kilometer dari batas paling luar Bandung Selatan. Sedih, geram, marah dan ketidakberdayaan memenuhi kepala mereka saat itu. Dengan barang-barang seadanya sembari menggendong bayi-bayi mereka, 200.000 jiwa rakyat Bandung menjerit tak bersuara meninggalkan tanah kelahirannya.

Untuk siapa mereka melakukan hal itu? Padahal perintah pengosongan itu hanya ditujukan untuk tentara dan barisan bersenjata. Namun untuk kepentingan bangsa, semua sepakat meninggalkan Bandung Selatan sekaligus membakar dan meledakkan habis harta dan rumah yang selama ini menjadi tempat mereka berbincang-bincang bersama keluarga. Meski tanpa ada kepastian nasib dan tempat tinggal yang nantinya akan mereka tempati, mereka tetap berkorban untuk negeri.

Jika kita bandingkan, pengorbanan yang telah kita lakukan sejauh ini masih sangat sedikit. Besarnya pengorbanan pun masih belum bisa setara dengan para pejuang Bandung Lautan Api. Hal ini semakin jelas seiring semakin berkembangnya zaman. Semakin hari, semakin banyak pengkhianatan dan keegoisan para pejabat negeri untuk memperkaya dirinya sendiri. Alih-alih berlindung di balik slogan “membela” bangsa, tak sedikit pula yang masih “memanfaatkan” bangsanya sendiri.

Kasus korupsi di kalangan pejabat negeri rasanya bukan hal yang mengagetkan lagi, seakan sudah menjadi rahasia umum bahwa para pejabat sudah pasti melakukan korupsi. Penyakit yang terus menerus menjamur ini semakin membutakan pejabat negeri akan sebuah kejahatan yang seharusnya diperangi bersama. Tak tebang pilih, siapapun dapat terjangkit virus ini. Nilai reigius pribadi pun tak menjadi jaminan sama sekali, melihat kejadian korupsi dana keagamaan yang telah banyak terjadi belakangan. Bangsa ini bingung mencari orang-orang jujur yang bekerja dengan ikhlas.

Marilah wahai pemuda, calon pemimpin bangsa yang tak lama lagi ditunggu pengabdiannya, di peringatan Peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret ini mari tanamkan dalam diri semangat bekerja untuk bangsa. Bila tak dapat mewarisi semangat para pahlawan, jangan sakiti bangsa ini dengan tindakan yang merugikan. Jika tak mampu, diamlah, dan jangan mengganggu. Sebab, ancaman perusak bangsa tak lagi datang dari luar, namun dari dalam diri kita sendiri. Belajarlah berjuang untuk memberi, bukan mengambil.

Selamat Hari Peringatan Bandung Lautan Api. Kobarkan Semangat Persatuan dan Patriotisme!


Komentar

Postingan Populer